Mawar Sharon Jemaat Kasih Karunia Oesao

Jumat, 26 November 2010

CEMBURU YANG SEBENARNYA

Pada saat memasuki abad ke-21, para ilmuwan sepakat menyimpulkan penelitiannya, bahwa hubungan dua orang dalam mendifinisikan cinta adalah: Campuran dari ‘Psikologi, Biologi dan Kimia’. Seseorang yang sudah mengalaminya, bisa berpendapat bahwa: Perasaan cinta (rasa sayang terhadap seseorang) tidak mengenal bangsa, budaya, maupun usia, bahkan tidak mengenal situasi dan kondisi dari manusia mana pun di dunia ini. Di mana penghayatan hubungan itu terisi dengan kemauan, harapan, dan tuntutan, serta dibumbui oleh fantasi, imajinasi, dan visualisasi. Dan, yang paling membuat hubungan menjadi panas serta menimbulkan keretakan adalah bumbu cinta yang bernama cemburu!

Rasa cinta (sayang)—selain berisi harapan untuk selalu dekat dengan segala hal yang diinginkan—juga memiliki pemahaman bahwa, orang yang dicintai itu ‘milikku’. Dikarenakan pemahaman ini, menyebabkan seseorang mengalami apa yang dinamai ‘cinta egois’, cinta yang mengekang pasangannya dalam banyak bentuk. Ini terjadi karena rasa takut kehilangan orang yang dicintai.

Jika hubungan berdasarkan hal ketakutan, bisa dipastikan lambat atau cepat, pasangan menjadi menjauh dan berusaha ‘damai’ hanya untuk membuat ketenteraman. Tetapi sebaliknya, perasaan cinta malah menjadi mencair. Ibarat gunung es, jika terlalu dipegang dan dibakar cemburu Buta, maka yang terjadi bukan lebih mencintai, tetapi cinta menjadi hilang. Karena, pasangan merasa tidak dihargai, lebih tepat tidak dipercayai. Padahal, seseorang akan lebih bereaksi positif jika dipercayai. Jangankan pasangan kita, anak-anak pun lebih respek jika diberi kepercayaan.

Seseorang yang terjebak dalam hal mencintai dengan perasaan takut kehilangan, biasanya banyak dibakar oleh api cemburu. Dan, dengan bercanda orang mengatakan, bahwa cemburu adalah bumbunya saling mencintai. Bahkan, banyak pendapat yang mengatakan bahwa ‘Cemburu ada, karena cinta yang dalam’ memang betul, perasaan cemburu adalah ekspresi adanya cinta, tetapi itu bukan cinta terhadap pasangan kita, tetapi lebih dimaksud cinta kepada diri kita sendiri, yaitu takut kehilangan orang yang dicintai.

Maka, banyak macam eksepresi cemburu yang dikeluarkan, contoh: tidak memercayai apa yang dilakukan pasangan di luar keterlibatan kita. Menjadikan kita paranoia dengan berpikir selalu negatif terhadap kelakuan pasangan kita. Rasa percaya diri meluntur, maka banyak ulah menjadi ‘show-of’ terlalu menonjolkan diri yang tidak pada tempatnya, dan membuat perbandingan dengan orang lain, seolah memperlihatkan bahwa kita paling pantas untuk dicintai.

Hubungan yang berdasarkan rasa memiliki ini, selalu sadar atau tidak sadar ketakutan pasangannya hilang (direbut/beralih kepada orang lain). Ini semua membuat kualitas hidup menjadi negatif, pola pikir dan cara berinteraksi yang buruk, sampai timbul sikap memojokkan pasangan. Terkadang, begitu SANGAT parahnya sikap curiga kepada pasangan, mulai dari diam-diam memeriksa dompet, HP saat pasangan sedang mandi, sampai mengecek tagihan kartu kredit, ATM, menyelidiki via orang kantornya untuk mendapat jadwal kegiatan bisnis, serta bersedia mencuci (membersihkan) mobil sang suami, hanya karena sekedar ingin menemukan apa yang bisa jadi bukti kecurigaan. Maka, terjadilah permainan “Tom & Jerry” di antara pasangan. Hal ini benar-benar Sudah Gila & keterlaluan bukan...??!!! Bayangkan jika anda yang diperlakukan sebaliknya?????????????????

Menjadi pasangan suami istri berdasarkan ketakutan ditinggalkan, takut pasangan beralih mencintai orang lain, sesungguhnya hal itu hanya akan membuat kita lelah dan depresi sendiri. Hal ini menjadikan situasi rumah tangga menjadi tidak enak, sebab ke mana saja pasangannya pergi selalu timbul rasa takut kehilangan dia. Sampai-sampai banyak istri di Indonesia, memegang uang / harta / aset suaminya 100 persen, dan keuangan suaminya dijatah seperti anaknya yang masih SD. Kalau minta uang lebih ditanya untuk apa dan mengapa? sekali lagi...... Bayangkan Jika Anda yang diperlakukan sebaliknya????

Istri model begini berpikir, kalau suami tidak punya uang, maka tidak akan bisa berbuat apa-apa, (padahal ini pemikiran yang paling lugu dari seorang perempuan). Survei membuktkan, para suami yang diperlakukan demikian, di luar rumah menjadi teramat Buas & bahkan sangat LIAR !!!! seolah secara psikologis dia mau memperlihatkan, “Saya ini laki-laki yang bisa berbuat apa saja!” Tetapi, di depan istrinya ia mengalah, karena ia tidak mau ribut, apalagi cerai (formalitas status dipertahankan) atau demi anak-anaknya ia 'Terpaksa' bertahan walau hatinya kadang ingin M E N J E R I T.....!!! bahkan konon tidak menutup kemungkinan justru hal inilah yang memicu trend Poligami Terselubung di zaman modern ini. Nah jika benar-benar sudah sampai separah itu.... Bayangkan Siapa yang dirugikan..... bukankah Anda sendiri???

Banyak sifat/karakter orang, banyak pasangan yang begitu menjadi istri atau suami, menjadi orang yang seolah menjadi pemilik dari diri pasangannya. Maka, rumah tangga yang dibangun berdasarkan sifat pasangan seperti ini menjadikan pasangannya bukan menghargai dan kasih sayang tumbuh semakin subur, tetapi jadi hanya sekedar takut saja di depannya, sementara di belakangnya seperti kuda lepas dari kandang. Maka, pikir baik-baik sebelum “kasih leher” untuk diikat dengan tali perkawinan.

Hidup berpasangan yang terikat pernikahan, sudah selayaknya didasari cinta. Cinta di sini merupakan kepercayaan dan kesetiaan, di mana hal ini tidak diminta, tetapi kesadaran individu lebih melestarikan adanya cinta jenis ini. Jadi, cinta di sini bukan berarti orang harus selalu turut "apa maunya kita". Tetapi, cinta dan rasa sayang yang dibangun dari sikap percaya dan menghargai masa lalu masing-masing pihak, akan terasa hangat dan abadi sepanjang masa.

Berhati-hatilah...... Egosentris kita banyak pegang peranan dalam hal hubungan. Jadi, pasangan dilihat sebagai hak milik. Dia harus memenuhi keinginan dan gambaran kita, berperilaku seperti kemauan kita dan kalau bisa cinta kita terus. Ini berarti hidup terus-menerus dari (dengan cara amat halus) agresi kehendak – sikap dan ego yang dibuat. Egoisme ini jadi memberi selalu jarak dan tanpa respek pada pasangan.

Untuk hidup dengan rasa memiliki pada umumnya terjadi efek tak dapat memberi napas (baca: ketenangan) kepada yang lain. Maka, secara tidak disadari akan membuahkan teror (perkosaan jiwa) menimbulkan rasa tidak ada kebebasan kepada yang lain, tetapi sekaligus mendapat perasaan keamanan supaya tidak di tinggalkan, walaupun terkadang hanya sebatas fantasi, atau kenyataan semu saja!

Salam bahagia untuk semua pasangan di dunia ini....

SELAMAT MALAM...TUHAN MEMBERKATI


Post By : Yohana Lina Susanti 小兰
Oleh: Lianny Hendranata

Rabu, 17 November 2010

TETAP KUAT MESKI TAK DIANGGAP

“Karena itu baiklah juga mereka yang harus menderita karena kehendak Allah, menyerahkan jiwanya, dengan selalu berbuat baik, kepada Pencipta yang setia.” 1 Petrus 4:19

Alkitab menyatakan, “Karena iman maka Musa, setelah dewasa, menolak disebut anak putri Firaun, karena ia lebih suka menderita sengsara dengan umat Allah dari pada untuk sementara menikmati kesenangan dari dosa. Ia menganggap penghinaan karena Kristus sebagai kekayaan yang lebih besar dari semua harta Mesir, sebab pandangannya ia arahkan kepada upah.” (Ibrani 11:24-26)

Demi panggilan Tuhan Musa rela meninggalkan harta kekayaan dan segala kehormatan yang ia dapat saat berada di Mesir, untuk memimpin bangsa Israel keluar dari perbudakan. Tetapi bangsa Israel sama sekali tidak menunjukkan respons positif terhadap pengorbanan Musa ini. Sebaliknya mereka seringkali marah, menggerutu dan mengolok-olok Musa. Bahkan mereka menuduh bahwa Musalah penyebab penderiaan yang mereka alami selama ini. Bangsa Israel merasa lebih senang dan betah tinggal di Mesir dari pada harus mengembara di padang gurun menuju tanah Perjanjian, tidak ada makanan, tidak ada air, tidak seperti di Mesir. Namun Musa bisa menjaga hati, tetap taat kepada pimpinan Tuhan dan terus berupaya menjalankan tuganya demi kebaikan bangsa Israel itu, walau mereka memandangnya dengan sebelah mata.

Banyak hamba Tuhan yang tak luput dari hal yang demikian. Meski sudah melayani jiwa-jiwa dengan segenap hati dan jiwa, berkorban waktu dan tenaga, mereka masih kurang dianggap dan sering diremehkan pelayanannya. Janganlah kita kecil hati. Tetaplah teguh pada tugas dan panggilan seperti Musa. Kalaupun kita harus menderita karena melakukan kehendak Allah, kita harus menyerahkan jiwa kita kepadaNya. Sekalipun kita menderita karena perbuatan orang lain yang memusuhi perbuatan benar kita, jangan sekali-kali kita menuntut balas. Sebaliknya haruslah kita selalu berbuat baik kepada mereka dan juga kepada Allah Pencipta yang setia.

Itulah yang dikehendaki Allah kepada kita. Yang terpenting ialah motif pelayanan yang benar harus tetap kita pertahankan sekalipun banyak tantangan dan masalah yang menyerang. Percayalah, “Penjagamu tidak akan terlelap. Tuhanlah Penjagamu, Tuhanlah naunganmu di sebelah tangan kananmu.” (Mazmur 121:3b,5).

Jerih lelah kita bagi Tuhan tidak pernah sia-sia! Tetap lakukan tugasmu dengan setia.

Post By : Vicky Ch Boediarto

Selasa, 09 November 2010

Jepit Rambut

Firman Tuhan

Segala jalan Tuhan adalah kasih setia dan kebenaran bagi orang yang berpegang pada perjanjian-Nya dan peringatan-peringatan-Nya.
(Mazmur 25:10)



Jepit rambut tipis biasanya berwarna hitam dan berukuran kecil--kerap kali dianggap remeh oleh banyak orang. Namun, buat saa, jepit rambut itu sangat berguna. Selama beberapa waktu, ia kan menjepit dan menjaga rambut saya agar tetap di tempatnya, sehingga kelahatan rapi. Sementara beraktifitas, kadang saya meraba jepit rambut saya dan lega jika mendapati ia menjalankan tugasnya dengan baik..
Sekalipun mungkin--andai rambut saya bisa "merasa"--itu menyebabkan si jepit "dibenci" oleh rambut saya karena ia membuat rambut saya tidak bisa terurai dengan bebas.

Dalam hidup kita pun,ada banyak "jepit" yang Tuhan taruh,yakni "Jepit-jepit" peraturan yang menurut kita terkadang memebosankan, mengekang, membatasi, kuno, dan membuat kita merasa tidak enak, tetapi sangat perlu. Perlu untuk mengarahkan kita tetap berada dijalan yang Tuhan kehendaki. Perlu untuk membentuk kita menjadi pribadi seperti yang Tuhan mau!

Mari sekali lagi kita belajr dari Daud. Salah satu kunci keberhasilan Daud adalah ia mencintai hukum-hukum Tuhan. Ia idak bosan dengan hukum-Nya. Ia telah mengalami bagaimana hukum Tuhan itu telah membuatnya berbalik dari kejahatan (ayat 7,8); juga membangkitkannya dari kejatuhan; membuatnya kembali karib dengan Allah dan tidak kehilangan karunia-Nya (ayat 14). Tuhan telah menyediakan jalan hidup yang penuh kasih setia dan kebenaran. Kita diminta untuk berpegang pada janji-Nya, menuruti peringatan-Nya. Mungkin peringatan-Nya tak tampak menarik bagi kita, tetapi serupa dengan jepit rambut yang kecil, ia pasti sangat berguna.***

Post By : Iffon Lestari