(Mazmur 37:6-8)
Salah satu "tugas" terberat bagi kita adalah berdiam diri di hadapan Bapa. Kita cenderung melakukan sesuatu untuk memenuhi agenda kita, namun syarat dari Mazmur yang sedang kita pelajari ini, justru melarang kita untuk bertindak mendahului instruksi-Nya. Berdiam diri kedengarannya mudah, namun memerlukan keberanian, karena biasanya di dalam kelemahan kita, hal yang timbul adalah rasa resah dan gelisah. Perasaan itulah yang menjauhkan pikiran kita dari keinginan untuk percaya total kepada Tuhan.
Kita lihat, hal ini saling berkaitan. Tidak boleh satupun dari rangkaian ini terputus. Kita harus menikmati saat-saat indah bersama Allah, agar kita dapat mengambil komitmen pada jalan-Nya. Kepercayaan itulah yang membawa kita senang berdiam di hadapan-Nya; sehingga aliran sukacira boleh memenuhi hati kita. Jadi kesimpulannya adalah; Sabar menantikan Tuhan bertindak adalah salah satu ujian utama bagi kedewasaan rohani kita. Hanya dia yang memahami setiap keadaan dan tahu waktu yang tepat agar jawaban terhadap doa kita dapat memberikan manfaat yang maksimal. Bila kita memaksakan kehendak kita, maka kita menanggung resiko untuk menuai kekecewaan, luka atau bahkan kerugian.
Sebelum kita bangkit (dari tempat tidur pagi ini), naikkanlah doa seperti ini: Bapa, aku mengucap syukur karena Engkau telah memberikan kepadaku keinginan di hatiku. Hari ini aku akan bersuka di dalam Engkau, aku menyerahkan segala sesuatu kepada-Mu, karena Engkaulah yang mengendalikan segala sesuatu. Dan ajarlah aku menantikan waktu-Mu yang sempurna.
Ikutilah nasihat Mazmur ini, rasakanlah bagaimana Allah akan memelihara kita.***
@ Sambungan dari renungan yang berjudul Keiningina Hati @
Selamat Malam.
Tuhan memberkati.