Mawar Sharon Jemaat Kasih Karunia Oesao

Jumat, 28 Januari 2011

10 ALASAN BAIK MENGAPA KITA PERLU BERDOA DENGAN TEKUN:)

1. Mengurangi daya stress yang ditimbulkan oleh beraneka ragam persoalan hidup yang kita alami mereka yang suka malas berdoa akan lebih mudah untuk mengalami stress

2. Menurunkan tingkat emosi atau kemarahan mereka yang lebih sering berdoa akan lebih mampu mengendalikan diri dalam hal emosi dan kemarahan mereka yang sedang mau marah dan kemudian berdoa niscaya emosinya menjadi stabil

3. Mengurangi bahkan menghilangkan rasa putus asa mereka yang tekun berdoa akan memiliki kemampuan lebih untuk tidak mudah putus asa saat berada dalam kegagalan dibanding mereka yang jarang bahkan sama sekali malas berdoa

4. Meningkatkan ketegaran hati mereka yang lebih tekun berdoa akan lebih tegar menghadapi peristiwa-peristiwa yang terjadi di luar yang dikehendakinya bahkan peristiwa pahit sekalipun

5. Meningkatkan daya tahan tubuh dari penyakit-penyakit yang disebabkan gangguan psikis dengan ketekunan dalam berdoa, seseorang akan memiliki daya tahan secara fisik karena mampu untuk menghadapi dan menjalani kehidupan dengan segala peristiwanya dalam terang Kehendak Allah, sehingga tubuh tidak menjadi mudah lemah karena beban pikiran dan pekerjaan (bhs Jawa Nrimo)

6. Membuat orang menjadi lebih terbuka terhadap kelemahan dan kekurangan sesama mereka yang tekun berdoa dengan baik memiliki sikap yang lebih terbuka terhadap sesamanya karena ia akan terbantu dalam doa-doanya untuk menyadari juga kelemahan-kelemahan nya sendiri

7. Meningkatkan daya cinta kasih kepada diri sendiri dan orang lain ketekunan dalam doa membuat seseorang memiliki relasi intim dengan Tuhan Allah. Allah sendiri adalah kasih maka mereka yang tekun berdoa niscaya memiliki daya cinta kasih yang lebih kepada diri sendiri dan sesamanya. Mereka yang terjerumus dalam narkoba pastilah orang yang tidak tekun berdoa karena tidak mampu mencintai dan mengasihi diri sendiri

8. Meningkatkan kemampuan dalam mengembangkan diri. Seseorang yang dalam hidupnya tekun untuk berdoa akan memiliki kekuatan dan kemampuan untuk mengembangkan diri dengan lebih maksimal, karena ia akan semakin memahami talenta-talenta yang Tuhan berikan dan bagaimana seharusnya dikembangkan

9. Menjadikan yang tidak baik menjadi baik setiap orang yang tekun berdoa akan memiliki kemampuan untuk merubah yang tidak baik menjadi baik, dibandingkan mereka yang malas berdoa justru menjadikan yang baik menjadi buruk

10. Layak menerima keselamatan. Dengan berdoa tekun seseorang mendapatkan kesempatan untuk semakin kuat dan bahkan karena relasinya yang baik dengan Allah selagi di dunia ini ia juga akan mengalami yang sama kelak di keabadian


SELAMAT MALAM.
TUHAN MEMBERKATI ^__^

Post By : Yohana Lina Susanti 小兰

Minggu, 09 Januari 2011

SAAT MENUAI TAK SAMA




Banyak orang yang melakukan kejahatan dan ketidakadilan sama sekali tak memikirkan akibatnya di kemudian hari. Mereka tak mengerti bahwa apa pun yang ditabur itulah yang akan dituainya. Tapi saat menuai bagi setiap orang itu berbeda waktunya. Sama halnya bila kita menabur benih padi atau jagung, bertumbuhnya dan waktu memanennya pasti berbeda waktunya, meski benih itu kita tabur dalam waktu bersamaan. Seseorang yang menabur kejahatan atau berlaku keji terhadap orang lain mungkin belum mengalami perubahan apa-apa dalam hidupnya untuk sekian lama. Mereka masih dapat menikmati hidup dengan santai, tetapi mungkin setelah menginjak masa tua, tanpa disadarinya, semua perbuatanya yang ditaburnya itu ia tuai. Mereka panen, tapi panen hal-hal buruk yang sama sekali tak diharapkan terjadi. Mungkin sakit-penyakit mulai menggerogoti atau juga ekonomi mulai goncang. Mungkin juga apa yang didambakan dari anak-anaknya sebagai harapannya di masa tua tak terwujud.

Alkitab menyatakan, “Sebab barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya, tetapi barangsiapa menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu.” (ayat 8). Sebab itu memperhatikan hal ini: “Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah.” (ayat 9). Mungkin kita merasa jemu berbuat baik, karena sepertinya perbuatan baik kita itu tidak menampakkan hasilnya apa-apa bagi kita. Tapi jangan lupa, saat menuai itu belum tentu sekarang, mungkin 5 atau 10 tahun kemudian, mugkin juga anak cucu kita yang akan menuainya. Yang dituai itu pastilah hal-hal yang baik sesuai dengan apa yang kita tabur. Coba bayangkan! Jika orangtua menabur kejahatan dan yang menuai bukan dirinya sendiri, melainkan anak cucunya, kasihan sekali anak cucunya, bukan?

Alkitab menegaskan bahwa perbuatan orang benar akan juga berlaku sampai ke anak-cucunya; demikian juga perbuatan jahat, tuaiannya juga berlaku sampai ke anak cucu. Inilah pengalaman Daud: “Dahulu aku muda, sekarang telah menjadi tua, tetapi tidak pernah kulihat orang benar ditinggalkan, anak cucunya meminta-minta roti;” (Mazmur 37:25).

Karena itu, selama masih ada kesempatan, marilah kita menabur kebaikan; pada saatnya kita pasti akan menuai! Amin.


Post By : Vicky Ch Boediarto

Kamis, 06 Januari 2011

BAGAIMANA SUPAYA TETAP BERSUKACITA?

“Ia (Tuhan-Red) menegakkan orang yang hina dari dalam debu dan mengangkat orang yang miskin dari lumpur.” Mazmur 113:7

Hari-hari ini banyak orang kehilangan sukacita karena peliknya masalah yang dialami. Ada yang berkata, “Bagaimana saya bisa bersukacita, penghasilan saya pas-pasan, sedangkan biaya sekolah untuk anak mahal. Bagaimana saya bisa bersukacita, tinggal saja di kos-kosan ukuran 5S (sangat sempit sekali sampai sumpek). Bagaimana saya bisa bersukacita, di usia yang sudah di atas 30 tahun belum juga menemukan jodoh” dan sebagainya. Seringkali keadaan dan situasi yang ada begitu mempengaruhi kondisi hati kita. Sabaliknya, ada juga orang yang punya uang banyak dan tinggal di kawasan elite tetapi hatinya tetap tidak ada sukacita. Selalu saja ada rasa was-was atau kuatir. Ternyata, memiliki uang atau kekayaan melimpah tidak menjamin seseorang merasakan sukacita, karena uang tidak bisa membeli sukacita.

Sebagai orang yang percaya tidak seharusnya kita kehilangan sukacita, meski situasinya mungkin tidak mendukung. Tuhan mmenghendaki agar kita senantiasa memiliki sukacita di segala situasi, entah itu susah atau senang, punya duit atau bokek, karena sukacita adalah kekuatan untuk menghadapi setiap tantangan hidup. Ada pun kunci untuk tetap mengalami sukacita adalah bermula dari pikiran kita, karena “…seperti orang yang membuat perhitungan dalam dirinya sendiri demikianlah ia.” (Amzal 23:7a). Pertama-tama kita harus tanamkan dalam hati dan pikiran kita bahwa: 1. Kita punya Tuhan yang dahsyat. Pemazmur berkata, “Sebab Tuhan, Yang Mahatinggi adalah dahsyat, Raja yang besar atas seluruh bumi, Ia menaklukkan bangsa-bangsa ke bawah kuasa kita, suku-suku bangsa ke bawah kaki kita,” (Mazmur 47:3-4). Sebesar apa pun masalah yang kita alami, serahkan semuanya pada Tuhan, Dia pasti sanggup menolong kita karena kuasaNya tak terbatas. 2. Masalah adalah proses pendewasaan iman. Jika kita diijinkan mengalami masalah, berarti Tuhan sedang mendidik kita supaya kita makin dewasa di dalam iman. Jadi, tetaplah bersukacita! Seperti dikatakan, “Karena Ia tahu jalan hidupku; seandainya Ia menguji aku, aku akan timbul seperti emas.” (Ayub 23:10). 3. Ada Roh Kudus yang senantiasa memberi kekuatan dan penghiburan kepada kita.

Oleh sebab itu mari kita jalani hari dengan penuh sukacita, karena kita punya Tuhan yang dahsyat dan Roh Kudus yang senantiasa menopang!


Post By: Vicky Ch Boediarto

Rabu, 05 Januari 2011

Tiga Boneka

Alkisah di suatu kerajaan suatu hari seorang bijak dari kerajaan itu menghadiahkan kepada pangeran kerajaan yang sedang berulang tahun dengan tiga boneka. Pangeran itu bingung dan sama sekali tidak terkesan, pikirnya, "Emangnya saya perempuan koq kamu menghadiahkan boneka kepaaku?"

Orang bijak itu kemudian berkata, "Tidak salah, Yang Mulia, ini adalah hadiah untuk raja di masa mendatang," dan orang bijak itu menyerahkan kepada pangeran seutas benang panjang.

"Perhatikan di setiap telinga boneka-boneka itu ada lubangnya. Sekarang coba Yang Mulia masukkan benang ini ke boneka-boneka itu," kata orang bijak itu.

Pangeran itu mengambil boneka pertama dan memasukkan benang itu ke dalam telinga boneka pertama. Benang itu kemudian keluar dari telinga yang lain.

Pangeran itu kemudian mengambil boneka kedua dan memasukkan benang itu ke dalam telinganya. Dari boneka itu benang tersebut keluar dari mulutnya.

Dan untuk boneka ketiga pangeran itu mengulangi proses yang sama. Tapi kali ini benangnya tidak keluar dari manapun.

"Yang Mulia tahu artinya? Di dunia ini ada tiga jenis manusia. Tipe manusia pertama adalah ia sering 'masuk kanan keluar kiri' atau ia tidak pernah mendengarkan apapun nasihatmu. Tipe manusia kedua adalah manusia yang selalu mengatakan pada orang lain apa yang didengarnya. Orang seperti ini cenderung tukang gosip. Dan tipe orang yang ketiga selalu menyimpan setiap perkataan orang di dalam hatinya.

"Menurut Yang Mulia, manakah di antara ketiga tipe manusia ini yang terbaik?" tanya orang bijak itu.

"Yang ketiga?" jawab pangeran ragu-ragu.

Orang bijak itu hanya menggeleng dan memberikan pangeran itu boneka keempat. "Sekarang ulangi proses itu sebanyak tiga kali," katanya.

Pangeran itu kemudian memasukkan benang itu lagi lewat telinga boneka keempat. Pada usaha pertama, benang itu keluar dari telinga satunya. Pada usaha kedua, benang itu keluar dari mulutnya dan pada usaha ketiga benang itu tidak keluar dari manapun.

"Itulah tipe manusia yang paling baik. Seorang raja harus tahu kapan untuk tidak mendengarkan cemoohan dan kata-kata yang tidak membangun. Ia juga harus tahu kata-kata apa yang harus diucapkan dari apa yang didengar dan memilih setiap kata-katanya dengan hati-hati. Di lain kesempatan, ada kalanya kita cukup menyimpan dalam hati rahasia yang orang lain percayakan kepada kita."

Prens, menjadi orang yang dapat dipercaya itu susah. Di luar sana kita melihat berapa banyak perusahaan yang jatuh hanya gara-gara krisis kepercayaan. Bos A mengkhianati bos B, bos C melarikan uang perusahaan, karyawan tidak percaya atasan, direktur dipecat hanya gara-gara gosip. Manusia itu berbahaya seandainya tidak mengekang apa yang ia dengar dan apa yang ia ucapkan.

Dalam suratnya, rasul Yakobus mengingatkan kepada kita untuk mengekang lidah kita karena lidah kita ini lebih liar daripada binatang yang paling ganas sekalipun. Kendalikan apa yang kamu dengar, kendalikan apa yang akan kamu katakan. Hati nurani adalah filter dari kesemuanya itu. Oleh sebab itu perolehlah hikmat untuk mengekang lidahmu, mengekang telingamu dan jauhi sikap yang menjatuhkan.

SELAMAT MALAM.
TUHAN MEMBERKATI.

Post By: Yohana Lina Susanti